Ramainya sebuah klaim tidak menjelaskan siapa yang menerbitkannya, bahan apa yang menopangnya, atau apakah konteksnya masih utuh. Pemeriksaan lebih berguna jika dimulai dari isi klaim, lalu menelusuri sumber dan batas informasinya. Literasi informasi mencakup kemampuan menemukan dan menggunakan informasi. American Library Association juga menekankan kemampuan menyadari kapan informasi dibutuhkan, menempatkan, mengevaluasi, lalu menggunakannya secara efektif; Chartered Institute of Library and Information Professionals menyoroti pemikiran kritis dan penilaian yang berimbang [1].

Telusuri sumber yang benar-benar dirujuk

Mulailah dengan merumuskan inti informasi dalam kalimat netral. Pisahkan klaim yang ingin diperiksa dari judul, komentar, atau ajakan yang membungkusnya. Setelah itu, cari tahu siapa yang menerbitkan materi yang sedang dibaca dan apakah materi tersebut merujuk ke sumber lain.

  • Catat nama penerbit atau penulis yang tercantum, serta tanggal publikasinya jika tersedia.
  • Periksa apakah ada dokumen, pernyataan, atau materi asal yang bisa dibuka langsung. Jika hanya menemukan kutipan atau unggahan ulang, bedakan itu dari sumber yang dirujuk.
  • Cocokkan klaim yang beredar dengan isi sumbernya. Jangan menganggap sebuah tautan sudah mendukung klaim hanya karena topiknya tampak serupa.
  • Jika asal informasi belum ditemukan, tandai bagian itu sebagai belum terlacak, bukan sebagai fakta yang sudah dipastikan.

Langkah-langkah ini membantu memperjelas apa yang sedang dinilai: isi sumber, cara pihak lain merangkumnya, atau kesimpulan yang ditambahkan pembaca. Ketiganya dapat berbeda, jadi jangan mencampurnya dalam satu kalimat seolah-olah semuanya berasal dari bahan yang sama.

Periksa konteks dan batas klaim

Sumber yang bisa dibuka belum tentu membuat setiap kesimpulan yang dilekatkan padanya menjadi tepat. Baca bagian di sekitar kutipan, perhatikan tanggal dan hal yang sedang dibahas, lalu tanyakan sejauh mana isi sumber benar-benar mendukung klaim. Kesimpulan yang lebih luas daripada bahan yang tersedia perlu diperlakukan dengan hati-hati.

"Sebuah layanan mengubah ketentuannya" belum menjelaskan ketentuan mana yang berubah, kapan perubahan itu berlaku, atau siapa yang terdampak. Rincian tersebut menentukan batas makna kalimat; tanpa memeriksanya, pembaca berisiko menambahkan kesimpulan yang tidak dinyatakan oleh informasi asal.

Pisahkan fakta dari opini

Sebagai cara praktis membaca, fakta dapat diperlakukan sebagai pernyataan yang bisa dicocokkan dengan bukti atau sumber, sedangkan opini merupakan penilaian atau tafsiran. Sebuah kalimat juga bisa mencampur keduanya. Maka, tanyakan bagian mana yang dilaporkan dan bagian mana yang berupa penilaian. Bentuk kalimat yang tegas tidak dengan sendirinya menjadi bukti.

"Pengumuman itu diterbitkan pada tanggal tertentu" adalah klaim yang bisa diperiksa pada arsip penerbit. "Pengumuman itu membingungkan" adalah penilaian. Jika keduanya muncul bersamaan, pemeriksaan atas tanggal tidak otomatis membuktikan penilaian tersebut; alasan di balik penilaian perlu dibaca sebagai bagian yang berbeda.

Tentukan apa yang layak diteruskan

Sebelum membagikan informasi, pastikan sumber yang dirujuk jelas, konteksnya cukup, dan opini tidak disajikan seolah-olah fakta. Jika masih ada bagian yang belum terverifikasi, tunda penyebaran atau jelaskan ketidakpastian itu dengan terang. Pegangan sederhananya: mampu menyebutkan sumber, merangkum klaim tanpa melebih-lebihkan, dan menunjukkan bagian mana yang merupakan tafsiran.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Literasi informasi. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29849514&title=Literasi_informasi (diakses 2026-10-18).